Ilmu Buda Dasar (Suku Bugis)
v Sejarah
Suku Bugis
Suku
Bugis tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah
gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata “Bugis”
berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada
raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini,
yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka
merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau
orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We
Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. Sawerigading
sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La
Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih
9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah
kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat
Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili,
Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.
Dalam
budaya suku bugis terdapat tiga hal yang bisa memberikan gambaran tentang
budaya orang bugis, yaitu konsep ade, siri na pesse dan simbolisme orang bugis
adalah sarung sutra.
v Konsep
ade
Ade
yang dalam bahasa Indonesia adalah adat istiadat. Bagi masyarakat bugis, ada
empat jenis adat yaitu :
1. Ade
maraja, yang dipakai dikalangan Raja atau para pemimpin.
2. Ade
puraonro, yaitu adat yang sudah dipakai sejak lama di masyarakat secara turun
temurun,
3. Ade
assamaturukeng, peraturan yang ditentukan melalui kesepakatan.
4. Ade
abiasang, adat yang dipakai dari dulu sampai sekarang dan sudah diterapkan
dalam masyarakat.
v Konsep
siri’
Makna
“siri” dalam masyarakat bugis sangat begitu berarti sehingga ada sebuah pepatah
bugis yang mengatakan “SIRI PARANRENG, NYAWA PA LAO”, yang artinya : “Apabila
harga diri telah terkoyak, maka nyawa lah bayarannya”.Begitu tinggi makna dari
siri ini hingga dalam masyarakat bugis, kehilangan harga diri seseorang hanya
dapat dikembalikan dengan bayaran nyawa oleh si pihak lawan bahkan yang
bersangkutan sekalipun.
o
Siri’ Na Pacce secara lafdzhiyah Siri’
berarti : Rasa Malu (harga diri), sedangkan Pacce atau dalam bahasa Bugis
disebu Pesse yang berarti : Pedih/Pedas (Keras, Kokoh pendirian)
o
Siri’ Ripakasiri’, Adalah Siri’ yang
berhubungan dengan harga diri pribadi, serta harga diri atau harkat dan
martabat keluarga. Siri’ jenis ini adalah sesuatu yang tabu dan pantang untuk
dilanggar karena taruhannya adalah nyawa.
o
Siri’ Mappakasiri’siri’, Siri’ jenis ini
berhubungan dengan etos kerja. Dalam falsafah Bugis disebutkan, “Narekko degaga
siri’mu, inrengko siri’.” Artinya, kalau Anda tidak punya malu maka pinjamlah
kepada orang yang masih memiliki rasa malu (Siri’). Begitu pula sebaliknya,
“Narekko engka siri’mu, aja’ mumapakasiri’-siri.” Artinya, kalau Anda punya
malu maka jangan membuat malu (malu-maluin).
o
Siri’ Tappela’ Siri (Bugis: Teddeng Siri’),
Artinya rasa malu seseorang itu hilang “terusik” karena sesuatu hal. Misalnya,
ketika seseorang memiliki utang dan telah berjanji untuk membayarnya maka si
pihak yang berutang berusaha sekuat tenaga untuk menepati janjinya atau
membayar utangnya sebagaimana waktu yang telah ditentukan.
o
Siri’ Mate Siri’, Siri’ yang satu
berhubungan dengan iman. Dalam pandangan orang Bugis/Makassar, orang yangmate
siri’-nya adalah orang yang di dalam dirinya sudah tidak ada rasa malu (iman)
sedikit pun.
v Kebudayaan
Suku Bugis
1. Perkawinan
ideal menurut adat Bugis Makassar adalah:
Assialang
marola, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat kesatu, baik dari
pihak ayah maupun dari pihak ibu.
Assialana
memang, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat kedua, baik dari pihak
ayah maupun dari pihak ibu.
Ripanddeppe’
mabelae, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat ketiga, baik dari
pihak ayah maupun dari pihak ibu.
Perkawinan
tersebut, walaupun ideal, tidak diwajibkan sehingga banyak pemuda yang menikah
dengan gadis-gadis yang bukan sepupunya.
2. Perkawinan
yang dilarang atau sumbang (salimara’) adalah perkawinan antara:
Anak
dengan ibu atau ayah.
Saudara
sekandung.
Menantu
dan mertua.
Paman
atau bibi dengan kemenakannya.
Kakek
atau nenek dengan cucu.
3. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sebelum
perkawinan adalah
Mappuce-puce,
yaitu kunjungan dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis untuk
mengadakan peminangan.
Massuro,
yaitu kunjungan dari utusan pihak keluarga laki-laki kepada keluarga si gadis
untuk membicarakan waktu pernikahan, jenis sunreng (mas kawin), dan sebagainya.
Maduppa,
yaitu pemberitahuan kepada seluruh kaum kerabat mengenai perkawinan yang akan
datang.
v Kesenian
Suku Bugis
1. Tari
Paduppa Bosara
Tari Padupa Bosara merupakan sebuah tarian yang mengambarkan bahwa orang bugis kedatangan atau dapat dikatakan sebagai tari selamat datang dari Suku Bugis. Orang Bugis jika kedtangan tamu senantisa menghidangkan bosara sebagai tanda kehormatan.
Tari Padupa Bosara merupakan sebuah tarian yang mengambarkan bahwa orang bugis kedatangan atau dapat dikatakan sebagai tari selamat datang dari Suku Bugis. Orang Bugis jika kedtangan tamu senantisa menghidangkan bosara sebagai tanda kehormatan.
2. Tari Pakarena
Tari Pakarena memberikan kesan kelembutan. Hal tersebut mencerminkan watak perempuan yang lembut, sopan, setia, patuh dan hormat pada laki-laki terutama pada suami. Sepanjang Pertunjukan Tari Pakarena selalu diiringi dengan gerakan lembut para penarinya sehingga menyulitkan bagi masyarakat awam untuk mengadakan babak pada tarian tersebut.
Tari Pakarena memberikan kesan kelembutan. Hal tersebut mencerminkan watak perempuan yang lembut, sopan, setia, patuh dan hormat pada laki-laki terutama pada suami. Sepanjang Pertunjukan Tari Pakarena selalu diiringi dengan gerakan lembut para penarinya sehingga menyulitkan bagi masyarakat awam untuk mengadakan babak pada tarian tersebut.
3. Tari
Ma’badong
Tari Ma’badong hanya diadakan pada saat upacara kematian. Penari membuat lingkaran dengan mengaitkan jari-jari kelingking, Penarinya bisa pria atau bisa wanita. Mereka biasanya berpakaian serba hitam, namun terkadang memakai pakaian bebas karena tarian ini terbuka untuk umum.
Tari Ma’badong hanya diadakan pada saat upacara kematian. Penari membuat lingkaran dengan mengaitkan jari-jari kelingking, Penarinya bisa pria atau bisa wanita. Mereka biasanya berpakaian serba hitam, namun terkadang memakai pakaian bebas karena tarian ini terbuka untuk umum.
4. Tarian
Pa’gellu
Tari Pagellu merupakan salah satu tarian dari Tana Toraja yang di pentaskan pada acara pesta tambu Tuka, Tarian ini juga dapat ditampilkan untuk menyambut patriot atau pahlawan yang kembali dari medan perang dengan membawa kegembiraan.
Tari Pagellu merupakan salah satu tarian dari Tana Toraja yang di pentaskan pada acara pesta tambu Tuka, Tarian ini juga dapat ditampilkan untuk menyambut patriot atau pahlawan yang kembali dari medan perang dengan membawa kegembiraan.
5. Tari
Mabbissu
Tari Mabissu merupakan tarian bissu yang biasanya dipertunjukkan ketika upacara adat. Para penarinya bissu (orang yang kebal) yang selalu mempertontokan kesaktian mereka dalam bentuk tarian komunitas bissu bisa kita jumpai didaerah pangkep sigeri sulawesi selatan.
Tari Mabissu merupakan tarian bissu yang biasanya dipertunjukkan ketika upacara adat. Para penarinya bissu (orang yang kebal) yang selalu mempertontokan kesaktian mereka dalam bentuk tarian komunitas bissu bisa kita jumpai didaerah pangkep sigeri sulawesi selatan.
6. Tari
Kipas
Tari kipas Merupakan tarian yang memrtunjukan kemahiran para gadis dalam memainkan kipas dengan gemulai alunan lagu.
Tari kipas Merupakan tarian yang memrtunjukan kemahiran para gadis dalam memainkan kipas dengan gemulai alunan lagu.
7. Gandrang
Bulo
Gandrang Bulo merupakan sebuah pertunjukan musik dengan perpaduan tari dan tutur kata. Nama Gandrang bulo sendiri diambil dari perpaduan dua suku kata, yaitu gendang dan bulo, dan jika disatukan berarti gendang dari bambu. Ganrang Bulo merupakan pertunjukan kesenian yang mengungkapkan kritikan dan dikemas dalam bentuk lelucon atau banyolan.
Gandrang Bulo merupakan sebuah pertunjukan musik dengan perpaduan tari dan tutur kata. Nama Gandrang bulo sendiri diambil dari perpaduan dua suku kata, yaitu gendang dan bulo, dan jika disatukan berarti gendang dari bambu. Ganrang Bulo merupakan pertunjukan kesenian yang mengungkapkan kritikan dan dikemas dalam bentuk lelucon atau banyolan.
8. Kecapi
Kecapi Merupakan sala satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan, khusunya suku Bugis. Baik itu Bugis Makassar ataupun Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut sehingga betuknya menyerupai perahu. Kecapi, biasanya ditampilkan sebagai musik pengiring pada acara penjemputan para tamu pada pesta perkawinan, hajatan, bahkan hiburan pada hari ulang tahun.
Kecapi Merupakan sala satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan, khusunya suku Bugis. Baik itu Bugis Makassar ataupun Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut sehingga betuknya menyerupai perahu. Kecapi, biasanya ditampilkan sebagai musik pengiring pada acara penjemputan para tamu pada pesta perkawinan, hajatan, bahkan hiburan pada hari ulang tahun.
9. Gendang
Gendang merupakan sala satu alat musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar, yakni bulat panjang dan bundar mirip seperti rebana.
Gendang merupakan sala satu alat musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar, yakni bulat panjang dan bundar mirip seperti rebana.
10. Suling
Suling bambu terdiri dari tiga jenis, yaitu:
Suling bambu terdiri dari tiga jenis, yaitu:
Suling
Panjang (Suling Lampe) yang memiliki lima lubang nada dan jenis suling ini
telah punah.
Suling
calabai (siling ponco) suling jenis ini sering dipadukan dengan biola,
kecapi dan dimainkan bersama penyanyi.
Suling
dupa Samping (musik bambu) musik bambu masih sangat terpelihara biasanya
digunakan pada acara karnaval atau acara penjemputan tamu.
v Rumah
Adat Suku Bugis
Setiap
budaya memiliki Ciri Khas Rumah Adatnya Masing-masing. Begitu Pula Dengan
Bugis, rumah adat bugis itu terdiri dari tiga Bagian. Yang Dimana Kepercayaan
Tersebut terdiri atas:
1. Boting Langiq (Perkawinan Di langit yang Dilakukan Oleh We Tenriabeng)
2. Ale Kawaq (Di bumi. Keadaan-keadaan yang terjadi Dibumi)
3. Buri Liu (Peretiwi/Dunia Bawah Tanah/Laut) yang masih mempercayai bahwa
1. Boting Langiq (Perkawinan Di langit yang Dilakukan Oleh We Tenriabeng)
2. Ale Kawaq (Di bumi. Keadaan-keadaan yang terjadi Dibumi)
3. Buri Liu (Peretiwi/Dunia Bawah Tanah/Laut) yang masih mempercayai bahwa
v Pakaian
Suku Bugis