Rabu, 10 Oktober 2018

Review Film Ex Machina [2015]



REVIEM FILM EX MACHINA [2015]

Film Ex Machina adalah film bergenre sci-fi (Science – Fiction) bertema A.I ( Artificial Intelligence)  film ini juga membahas tentang eksistensi kecerdasan buatan dan bagaimana posisi mereka di dunia manusia. Film ini menggambarkan tentang sebuah robot yang memiliki kecerdasan sangat tinggi, ia juga memiliki kemampuan merespon manusia dengan baik, memiliki kemampuan mempengaruhi pemikiran manusia dan mengendalikan perasaan orang tersebut, juga memiliki kemampuan memanipulasi pandangan seseorang.

Caleb (yang diperankan oleh Domhnall Gleeson) adalah seorang programmer dan pegawai biasa di Bluebook, sebuah perusahaan mesin pencari terpopuler di dunia (mirip dengan Google) yang memenangkan kompetisi yang diadakan oleh CEO-nya yang jenius bernama Nathan (yang diperankan oleh  Oscar Isaac). Hadiahnya adalah kesempatan untuk menghabiskan waktu selama eminggu bersama Nathan di kompleks mewah miliknya di Alaska. 

Sesampainya disana, ternyata Caleb bukan diundang untuk liburan, melainkan melakukan "Turing Test", sebuah pengujian yang dilakukan Nathan untuk mengetes A.I. berteknologi tinggi yang baru dibangunnya dalam wujud robot berwajah cantik bernama Ava ( yang diperankan oleh Alicia Vikander). Caleb bertugas untuk melakukan kontak verbal dengan Ava dan menguji kesempurnaan Ava sebagai A.I. yang mirip manusia. 

Melalui 7 sesi pengujian Ava, Film ini mengungkap semua rahasia melalui skenario yang dikemas dengan terencana. Setiap layer cerita disajikan satu persatu yang mengungkapkan bahwa Nathan dan Ava punya agenda tersendiri. 

Dimulai dari Caleb yang baru menyadari kesempurnaan teknologi pada diri Ava, dimana Ia dapat merespon obrolan manusia secara formal maupun slang seperti saat Caleb berkata “Break The Ice”. Robot Ava juga dapat mengendalikan aliran listrik di kediaman Nathan, sehingga dalam beberapa waktu Nathan tidak dapat mengontrol kegiatannya. Ava juga berhasilkan meyakinkan Caleb bahwa dirnya tertarik pada Caleb dan meempengaruhi Caleb untuk membawanya keluar dari kediaman Nathan dan bergabung dengan kehidupan manusia secara normal. Hingga akhirnya Nathan mati terbunuh oleh masterpiece teknologi yang diciptakannya sendiri, sementara Caleb terkunci di rumah Nathan karena kenaifannya yang sudah mempercayai seorang robot yang terlampau cerdas. Kisah ini dapat merepresentasikan dengan baik bagaimana berbahayanya kecanggihan teknologi yang dapat mengontrol kehidupan manusia jika tidak dibuat batasan bagi teknologi tersebut.

Dengan alur cerita yang hanya berfokus pada 3 orang (dengan tambahan satu karakter pendukung sebagai pelayan pribadi Nathan), film ini terasa seperti drama teater, yang dimainkan dengan briliant oleh ketiga aktornya. Tak hanya meyakinkan kita bahwa ketiganya berinteraksi sebagai sesama jenius, mereka juga membawakan bobot emosional yang dituntut oleh karakter masing-masing. 

Yang paling mencolok adalah peran Nathan, seorang jenius muda yang punya kompleksisitas karakter. Nathan yang visioner memanfaatkan database Bluebook bukan untuk tujuan komersil melainkan membuat A.I. super canggih.

Di balik pembawaannya yang santai, humoris, dan sesekali mabuk, ada indikasi bahwa dia punya rahasia besar tersembunyi dengan apik. 

Peran Caleb adalah penggambaran dari penonton yang polos dan nyaris tak tahu apa-apa. Caleb adalah seorang nerd yang jenius, namun dia tak mengerti apa yang sedang terjadi dan sedang direncanakan oleh orang sekitarnya. Matang dalam logika, namun naif secara mental. Ia juga dengan mudahnya dipengaruhi oleh kecedasan robot yang mempengaruhi nya untuk menentang Nathan.

Ex Machina memiliki dialog yang cerdas membuat para penonton untuk berpikir dan mencerna alur dengan baik namun mudah dicerna. Plot twist yang cukup banyak, dan dapat memberikan pemahaman yang besar bagi penonton tentang pengaruh kecanggihan teknologi di masa depan ditengah-tengah kehidupan manusia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar